
Suporich Co.,Ltd
Gambaran umum bisnis
Perusahaan ini menyediakan layanan pelatihan IT, layanan dukungan pencarian kerja, dan layanan penyaluran tenaga kerja bagi tenaga kerja asing.
Kata kunci perusahaan
- Mengembangkan layanan dukungan kerja yang dikhususkan bagi tenaga kerja asing yang ingin bekerja di Jepang.
- Membangun sistem ketenagakerjaan yang merefleksikan aspirasi karyawan, seperti “sistem telework saat pulang ke negara asal”, tanpa terpaku pada “kebiasaan umum” perusahaan Jepang.
- Menyediakan lingkungan yang memungkinkan bagi karyawan untuk mendapatkan kemampuan yang dibutuhkan guna mencapai tujuan mereka, termasuk melalui sistem Job Change
Profil perusahaan
Jumlah mahasiswa asing yang belajar di Jepang terus meningkat, namun tingkat penyerapan mereka ke dunia kerja masih jauh lebih rendah dibandingkan mahasiswa Jepang. Untuk mendukung tenaga kerja asing yang ingin bekerja di Jepang tetapi tidak mendapatkan kesempatan, didirikanlah Suporich. Layanan pertama yang dikembangkan oleh Suporich adalah pelatihan IT. Lee selaku CEO menjelaskan, “Menguasai bahasa Jepang membutuhkan waktu. Namun kami berpikir bahwa jika seseorang memiliki kekuatan lain seperti sertifikasi, peluang kerja akan meningkat. Oleh karena itu, kami memfokuskan diri pada industri IT yang mengalami kekurangan tenaga kerja serius”. Berawal dari bisnis pelatihan IT, perusahaan kemudian memperluas usahanya ke dukungan pencarian kerja dan penyaluran tenaga kerja. Dengan mempertimbangkan kebiasaan khas Jepang, seperti berbagai media lowongan, metode rekrutmen, serta etika saat melamar dan wawancara, Suporich mendukung aktivitas pencarian kerja tenaga kerja asing secara komprehensif.
Untuk menjadi penghubung antara tenaga asing dan perusahaan Jepang, tidak hanya kemampuan untuk memanfaatkan kedua bahasa, tetapi juga pemahaman budaya masing-masing negara dibutuhkan . Oleh karena itu, sejak awal didirikan, Suporich merekrut karyawan asing secara aktif. Salah satunya adalah Ibu Gao, yang berasal dari Tiongkok. Awalnya dia adalah pengguna layanan Suporich, dan kini menjadi karyawan. Pada saat ambil bahasa Jepang sebagai mata kuliah pilihan, ia belajar bukan hanya bahasa, tetapi juga berbagai hal tentang Jepang, sehingga tertarik kehidupan di jepang. Setelah sempat bekerja sebagai engineer di perusahaan IT besar di Tiongkok dan melewati masa pandemi, ia akhirnya mewujudkan impiannya, yaitu tinggal di Jepang. Usai lulus dari sekolah bahasa Jepang, ia menghubungi Suporich dengan harapan bisa bekerja di Jepang. Namun beberapa bulan kemudian, ia justru direkrut langsung oleh CEO Lee, yang melihat potensi dalam cara berpikir dan komunikasinya yang logis. “Saya terkejut dan tidak menyangka akan begini, tetapi saya merasa pekerjaan ini sangat menarik karena bisa membantu tenaga kerja asing lain, yang ingin bekerja di Jepang seperti saya.” (Gao).
Cara menyeimbangkan kehidupan dan pekerjaan
Lebih dari separuh karyawan Suporich berkewarganegaraan asing dan CEO Lee sendiri juga berasal dari Tiongkok. Oleh karena itu, perusahaan tidak terpaku pada kebiasaan perusahaan Jepang melainkan berupaya mewujudkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang sesuai dengan kondisi aktual karyawan. Salah satu contohnya adalah “sistem telework saat pulang ke negara asal”. Sistem ini diperkenalkan agar karyawan asing dapat menghabiskan waktu lebih lama bersama keluarganya. Jumlah hari yang dapat digunakan meningkat sesuai masa kerja, yaitu 5 hari untuk tahun pertama, 7 hari untuk tahun kedua, dan seterusnya. Gao pun mengatakan, “Saya bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan keluarga saat Tahun Baru Imlek, dan itu membuat saya sangat bahagia.”. Selain itu, untuk mengantisipasi kondisi seperti sakit mendadak atau keperluan mendesak segera setelah bergabung, perusahaan juga memungkinkan pengambilan cuti berbayar sejak hari pertama masuk kerja.
Ciri khas lain dari Suporich adalah, “sikap yang serius dalam merefleksikan aspirasi karyawan ke dalam sistem perusahaan”. Misalnya, menanggapi pendapat Gao bahwa “Jika pencapaian target penjualan baru tercermin dalam gaji atau penilaian beberapa bulan kemudian, rasanya terlalu lambat”, perusahaan segera menerapkan sistem pemberian “penghargaan”, seperti makan bersama, hadiah, atau hari libur pada bulan berikutnya, sesuai dengan tingkat pencapaian target. Frekuensi acara internal juga disesuaikan berdasarkan aspirasi karyawan. “Komunikasi antar karyawan itu penting, tetapi jika diadakan acara terlalu sering, bisa menjadi beban. Kami mendengarkan setiap suara dan mencari frekuensi yang nyaman untuk dinikmati bersama.” (Lee).
Cara mengembangkan tenaga kerja
Lee juga mengatakan, “Keadaan paling menyedihkan adalah ketika seseorang memiliki target, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkannya.”. Oleh karena itu, selama 1–2 bulan pertama setelah bergabung, karyawan mendapatkan pelatihan intensif secara one-on-one sambil bekerja, agar mereka benar-benar memiliki keterampilan untuk menantang hal yang ingin mereka capai. “Saya sebenarnya sudah lama tertarik pada pekerjaan sales, karena hasilnya bisa dirasakan langsung melalui angka." Gao, yang telah beralih dari engineer ke sales mengenang masa lalu. "(Setelah beralih ke sales) Saat mengalami kesulitan pun, saya mendapatkan bantuan langsung dari senior, sehingga saya bisa tenang meskipun tidak berpengalaman.”. Selain itu, selama masa pelatihan, karyawan juga diminta mengonfirmasi materi yang akan dipelajari di awal hari kerja, serta mempresentasikan apa yang dipelajari di akhir hari, guna memperkuat pemahamannya.
Lebih lanjut, karyawan juga bisa berpindah posisi sesuai harapan mereka, melalui sistem Job Change. Mengingat skala organisasi yang kecil, rotasi akan berdampak signifikan. Namun perusahaan meresponsnya dengan melakukan penyesuaian operasional secara menyeluruh. “Orang yang meninggalkan negaranya untuk bekerja di Jepang, biasanya datang untuk mencari suatu “perubahan”. Kami ingin mendukung keinginan mereka untuk mencoba berbagai tantangan” (Lee). Gao pun mengungkapkan tujuannya, “Saat ini saya menangani sales kepada individu khusus untuk mahasiswa, tetapi ke depannya saya ingin menantang diri di sales kepada korporasi.”.
Bahkan jika suatu hari karyawan menemukan impian lain dan memilih untuk meninggalkan perusahaan, sikap perusahaan untuk mendukung tantangan mereka tidak akan berubah. “Kami berharap mereka bangga pernah bekerja di Suporich, dan terus berani menantang hal baru di jalur baru berikutnya” (Lee).
Pesan dari perwakilan perusahaan
CEO, YinLing Li
Ke depannya, Suporich akan memperkuat layanan penyaluran tenaga kerja, sekaligus mengembangkan layanan konsultasi secara serius bagi perusahaan yang menghadapi tantangan dalam menerima tenaga kerja asing.
Tokyo adalah kota yang nyaman untuk ditinggali dan jarak antarindividu terasa pas. Bagi Anda sekalian yang akan bekerja di Tokyo, saya berharap Anda tidak berusaha untuk menjadi sama seperti orang Jepang, melainkan memanfaatkan perbedaan yang Anda miliki sebagai kekuatan untuk bersinar.
Pesan dari tenaga kerja asing
Sales kepada individu/Gao ZhiFei (Tiongkok)
Saya yang dulu berada di posisi diajari oleh senior, kini berada di posisi yang membimbing junior. Pengajaran orang yang kepribadian dan pola pikirnya berbeda memang tidak mudah dan penuh trial and error. Akan tetapi, bagi saya tantangan baru ini menjadi sumber stimulasi setiap hari.
Tokyo adalah tempat yang menarik karena mudah menjalin pertemanan dengan orang dari berbagai negara. Dari sisi karier pun banyak peluang yang tersedia, sehingga tantanglah diri Anda secara proaktif untuk mengejar apa yang ingin Anda lakukan.
Informasi perusahaan
- Nama Perusahaan
- Suporich Co.,Ltd
- Tanggal pendirian
- 15 November 2021
- Modal
- 5 juta yen
- Perwakilan Perusahaan
- YinLing Li
- Jumlah pegawai
- 10 orang (Termasuk 8 orang warga negara asing)
- Lokasi kantor pusat
- Daiya Gate Ikebukuro Lt5, 1-16-15 Minami-Ikebukuro, Toshima-ku, Tokyo
- Nomor telepon
- 03-5985-6220
- URL
- https://www.suporich.com/#/
* Data per Desember 2025.


